Indonesia dalam Arus Sejarah: Dari Prasejarah ke Reformasi, 4500 Halaman

Oleh: Awang Harun Satyana

ArusSejarah-1

“Indonesia dalam Arus Sejarah” adalah judul buku yang baru (Desember 2012) diterbitkan oleh PT Ichtiar Baru van Hoeve. Ada sembilan jilid dengan total 4500 halaman (termasuk halaman-halaman pembuka), terdiri atas 136 bab.

Buku-buku ini mirip ensiklopedia, tetapi bukan, sebab isinya tidak disusun berdasarkan alfabetik, melainkan berdasarkan periodisasi sejarah Indonesia. Buku berukuran 21 x 28 cm, dicetak dengan edisi luks di atas kertas yang bagus, semi glossy, besar huruf cukup untuk nyaman dibaca, berjilid keras. Buku dicetak dalam dua versi: berwarna (1000 ilustrasi berwarna) dan hitam putih.

Kesembilan jilid buku ini adalah sebagai berikut:
Jilid 1 Prasejarah (380 hal.)
Jilid 2 Kerajaan Hindu-Buddha (372 hal.)
Jilid 3 Kedatangan dan Peradaban Islam (452 hal.)
Jilid 4 Kolonisasi dan Perlawanan (690 hal.)
Jilid 5 Masa Pergerakan Kebangsaan (436 hal.)
Jilid 6 Perang dan Revolusi (579 hal.)
Jilid 7 Pascarevolusi (547 hal.)
Jilid 8 Orde Baru dan Reformasi (684 hal.)
Jilid 9 Faktaneka dan Indeks (109 hal.)

Buku-buku ini digagas dan diwujudnyatakan oleh Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, seperti ditulis di beberapa kata pengantarnya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Presiden Republik Indonesia, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (saat 2009), Menteri Pendidikan Nasional (saat 2009), Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala.

Penyusunan buku ini memerlukan waktu 10 tahun (2002-2012), dengan jumlah penulis hampir 100 orang terdiri atas sarjana-sarjana sejarah dan arkeologi bangsa Indonesia yang keahlian dan kiprahnya memang di bidang sejarah, arkeologi atau yang berkaitan. Ada dua editor umum untuk seluruh buku-buku ini, yaitu sejarawan senior Prof. Dr. Taufik Abdullah dan Prof. Dr. A.B. Lapian (alm.). Di setiap jilid ada beberapa editor jilid, yang merupakan ahli-ahli senior terpilih di masing-masing bidangnya. Merekalah yang bertugas menentukan bab-bab di setiap jilid dan mencari penulis yang ahli di bidangnya yang babnya akan menyusun jilid.

Berikut para editor setiap jilid:

Prasejarah: Prof. Dr. Truman Simanjuntak, Dr. Harry Widianto
Kerajaan Hindu – Buddha: Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dr. Hasan Djafar
Kedatangan dan Peradaban Islam: Prof. Dr. Azyumardi Azra, Dr. Jajat Burhanudin
Kolonisasi dan Perlawanan: Prof. Dr. Djoko Surjo, Prof. Dr. Nina Herlina Lubis
Masa Pergerakan Kebangsaan: Dr. Muhamad Hisyam, Prof. Dr. I Ketut Ardhana
Perang dan Revolusi: Prof. Dr. Mestika Zed, Dr. Mukhlis PaEni
Pascarevolusi: Prof. Dr. R.Z. Leirissa, Dr. Saleh Asa’ad Djamhari
Orde Baru dan Reformasi: Prof. Dr. Susanto Zuhdi

Ada empat hal kekhususan buku ini:

1. materi yang terdapat di buku-buku ini sangat komprehensif (prasejarah – era reformasi), kita akan mengetahui bagaimana Indonesia itu menjadi dan setelah jadi.
2. penulisan buku melibatkan hampir 100 ilmuwan sejarah, arkeologi dan ilmu yang berkaitan.
3. terdapat semangat di antara penulisnya untuk merekonstruksi ulang sejarah, terutama bila dianggap bahwa sejarah pada masa Orde Baru adalah sejarah pihak penguasa.
4. buku-buku ini ditulis dan diterbitkan pada masa yang tepat, di tengah kesadaran bangsa Indonesia untuk memperkuat pembangunan karakter bangsa.

Pembahasan setiap jilid dimulai dengan Pendahuluan oleh editor jilid kemudian bab-bab pembahasan yang menampilkan bab-bab detail yang berhubungan dengan tema jilid, masing-masing bab dilengkapi dengan catatan akhir/catatan kaki, kemudian daftar pustaka yang memuat semua referensi yang digunakan dalam penyusunan semua bab.

Agar kualitas bahasa Indonesia yang digunakan terjaga mutunya, maka delapan ahli bahasa melakukan penyuntingan bahasa berdasarkan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar atas seluruh tulisan di buku-buku ini.

Dalam mengantar buku ini, Prof. Dr. Taufik Abdullah menulis bahwa buku “Indonesia dalam Arus Sejarah” ini bukan merupakan revisi atas buku “Sejarah Nasional Indonesia” (Balai Pustaka, 1975, dimutakhirkan tahun 2008, enam jilid, cetakan ke-4 edisi pemutakhiran tahun 2010), tetapi buku ini merupakan buku karya tersendiri. Buku “Sejarah Nasional Indonesia” maupun “Indonesia dalam Arus Sejarah” sama-sama dapat menjadi buku sumber.

Sekalipun Indonesia saat ini sudah mempunyai dua buku acuan standar “Sejarah Nasional Indonesia” dan “Indonesia dalam Arus Sejarah”, buku-buku ini bukanlah “terminal” akhir, melainkan terminal pemberhentian sementara dalam usaha mendapatkan rekonstruksi masa lalu Indonesia yang lebih lengkap dan utuh. Begitulah ‘nasib’ ilmu sejarah, ketika telah berusaha mengadakan rekonstruksi masa lalu, ketika semua hal telah selesai dikerjakan, seketika itu pula keharusan untuk memperbaharui diri datang begitu saja.

Sekalipun demikian, menurut hemat saya, buku-buku “Indonesia dalam Arus Sejarah” patut diacungi dua jempol baik isinya maupun kemasannya, akan membuat para penikmat sejarah mendapatkan tempat belajar sejarah dan arkeologi yang sangat memuaskan, kuliah yang komprehensif dan mutakhir, berasal dari para ahlinya.

ArusSejarah-2

ArusSejarah-3

 

 

 

Berikut adalah komentar2 yang muncul untuk artikel ini:

  • Andi Arief Dua Pak Awang Satyana, pasti satu hal yang gak dibicarakan secara rinci kalau buku sejarah indonesia, soal bencana. Karena bencana bukan bagian penting dalam penulisan sejarah Indonesia.
  • Awang Satyana Pak Andi Arief Dua, saya belum membaca masalah itu, saya coba nanti akan cek membaca masalah tersebut di Trowulan, ibu kota Majapahit.
  • Ummy Latifah mantap..wajib beli..saya baru punya SNI lama versi Nugroho Notosusanto..betul pak Awang meskipu buku ini lengkap dan bagus bukan menjadi terminal terakhir penulisan sejarah Indonesia…..
  • Andi Arief Dua Hampir semua buku sejarah kita (kalau gak salah termasuk yg diposting) tidak menjadikan beberapa temuan penting tentang sejarah dan bencana seperti yng ditulis raffles, Denys Lombard, g Codes dll. kalau masuk era 1900-an buku jaman bergeraknya Takashi Siaishi.
  • Awang Satyana Ya teh Ummy, karena penelitian2 terus dilakukan, pasti banyak buku tidak akan menjadi edisi pamungkas. Ya, sebagai lulusan sejarah teh Ummy harus memiliki buku2 ini he2…Nikmat membacanya. Saya punya juga yang SNI (Sejarah Nasional Indonesia) edisi pemutakhiran cetakan ke-4 tahun 2010 (revisi besar atas edisi pertama tahun 1975).
  • Awang Satyana Pak Andi, sejarah tak hanya cerita bencana, yang Pak Andi tulis ada sebagai alternatif pemikiran di jilid 2, silakan dicek saja.
  • Andi Arief Dua Betul pak Awang Satyana, sejarah tapi juga bukan hanya cerita sejarah politik. penulisan sejarah kita adalah sejarah politik
  • Awang Satyana Di SNI mungkin iya sebab ditulis di masa OrBa, yang ini tidak Pak, silakan dibaca dengan detail di kata pengantarnya oleh Prof. Dr. Taufik Abdullah, bahkan ditulisnya juga bahwa ini bukan buku2 terminal terakhir.
  • Andi Arief Dua Kalau baca power point pak Awang Satyana soal peta migas sebelum ORBA dan ORBA sebetulnya soal kemandirian dan kesejahteraan ada momentumnya. Nah, dibalik politik 2 orde itu oleh sejarawan mainstream kadang tak memperlihatkan mengapa sampai hari ini situasi kita ada.
  • Andi Arief Dua Misalnya beda antara post colonial dan negara persemakmuran dalam sistem keuangan negara serta dampaknya pada dasar-dasar mata uang hingga sampai tiga digit hari ini, para ekonom kita tak ada yang jelaskan secara utuh. karena ini dianggap bukan sejarah.
  • Awang Satyana Ya Pak Andi Arief Dua, yang edisi ini ditulis ketika telah begitu banyak bahan penelitian terkumpul, dan ada kecurigaan sejarah pihak penguasa terutama pada masa OrBa, seperti kata pengantar yang ditulis Pak Moh Nuh di buku ini, maka ditulislah buku ini untuk merekonstruksi yang ada. Nanti kalau ternyata penemuan Tim Pak Andi dkk di Gunung Padang dll teruji secara sains dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah juga diterima di kalangan ilmuwan, mengapa tidak suatu rekonstruksi baru bisa dilakukan. Pengalaman saya membuka2 semua jilid buku ini dan membaca secara cepat beberapa bab, sangat mencerahkan. Tak perlu kecurigaan yang berlebihan itu.
  • Awang Satyana Ya Pak Andi Arief Dua, yang edisi ini ditulis ketika telah begitu banyak bahan penelitian terkumpul, dan ada kecurigaan sejarah pihak penguasa terutama pada masa OrBa, seperti kata pengantar yang ditulis Pak Moh Nuh di buku ini, maka ditulislah buku ini untuk merekonstruksi yang ada. Nanti kalau ternyata penemuan Tim Pak Andi dkk di Gunung Padang dll teruji secara sains dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah juga diterima di kalangan ilmuwan, mengapa tidak suatu rekonstruksi baru bisa dilakukan. Pengalaman saya membuka2 semua jilid buku ini dan membaca secara cepat beberapa bab, sangat mencerahkan. Tak perlu kecurigaan yang berlebihan itu.
  • Andi Arief Dua Mungkin kalau rentang sebelum 1900 saja agak kejauhan pak Awang Satyana , kita mendapatkan informasi ekonomi politik paska 1948 saja sulit mendapatkan hal yang komprehensif.
  • Andi Arief Dua Pengaruh kekalahan diplomasi 1948 dan tragedi kemanusiaan 1965 jika tidak dibahas tuntas dalam sejarah kita maka selamanya sejarah yang pendek paska 1948 akan tetap gagal disimpulkan sebagaimana para indonesianist frustrasi menulis gerak sejarah indonesia.
  • Andi Arief Dua Satu hal pak Awang Satyana, jika benar kebesaran kerajaan majapahit dan Sriwijaya di abad 7 dan 12 an , pasti ditulis oleh penelii atau sejarawan eropa. Apa saya saja yang belum baca, tapi hampir semua yang saya tanya memang gak ada sejarawan atau peneliti dunia di abad 13-15 yg menyebut 2 kerajaan itu.
  • Pririsqi Prinirwasita Bisa mendapatkan buku2 ini dmn??
  • Fajar Nur Rachmanto Sangat menarik Pak Awang, buku ini seharusnya menjadi rujukan anak muda Indonesia dalam upaya mencari karakter bangsa sehingga mempunyai visi yang jelas dalam berbangsa. Karena dengan sejarahlah kita bisa menjadi lebih bijaksana dan dapat menghargai suatu proses. Tidak dengan budaya instan yang sekarang ini tengah merasuki rakyat Indonesia.
  • Awang Satyana Bisa langsung ke penerbitnya, ichtiar baru van hoeve, www.ibvh.com
  • Harry Octavianus Sofian buku ini tidak boleh beli satuan/per jilid ya pak? harus beli semua?
  • Awang Satyana Iya Harry Octavianus Sofian, harus satu set, 9 jilid.
  • Ummy Latifah Mungkin guru saya Prof Ahmad Mansur Suryanegaradapat memberikan pendapatnya tentang buku ini ….
  • Dari Prasejarah (380 hal.) ke Kerajaan Hindu-Buddha (372 hal.)
    Sepertinya ada loncatan tahun, kapan sejarah dimulai setelah pra sejarah? < ada diperpustakaan daerah ngak yah ?)
  • Awang Satyana Tidak ada lompatan tahun, memang sejarah Indonesia diawali Kerajaan Hindu-Buddha, awal sejarah Indonesia sesuai tulisan tertua yang ditemukan adalah sekitar tahun 400 M. Ini adalah versi sejarah tertulis. Sejarah yang tak ada bukti tertulis / disebut prasejarah tentu lebih tua dari 400 M, bisa ribuan tahun sebelumnya. Buku2 ini rencananya memang untuk didistribusi ke lembaga2 Negara, mungkin perpustakaan daerah P dan K ada. Buku2 dijual ke pribadi2 sebagai edisi koleksi/ kolektor.
  • Gus Manz Di Mesir, sejarah dimulai 2500-3000 tahun SM. Maksudnya “lompatan sejarah” tahun itu jauuh sekali dengan sejarah Bangsa Mesir. Bisa jadi, bangsa “atlantis” terkubur sejarahnya oleh letusan gunung berapi. Maklum masuk di jalur “ring of fire”.
    Konon, Nabi Adam itu “turunnya” di Kanekes bukan di India.
  • Ahmad Mansur Suryanegara Maaf Ummy Latifah, bapa belum membacanya. Insya Allah d iketika yang lain, bapa akan berkomentar. Tetapi berapa ya harganya. Berapa jumlah penulisnya. Didanai oleh siapa ? API SEJARAH 1 dan 2 bapa tulis sendiri, tanpa ada dana dari luar. Murni tidak ada pesan sponsor.
  • Ummy Latifah Nampaknya mahal pak….iya dana risetnya pasti cukup lumayan dengan banyak tim begini pak Ahmad Mansur Suryanegara Api Sejarah adalah karya Masterpeace bapak selama puluhan tahun menjadi sejarwan jadi lengkap teori, empiris ada di Api Sejarah.saya punya kedua buku Bapak….Sejarah Islam Indonesia yang lengkap dan tajam analisa…Semoga Pa Mansur selalu diberi kesehatan agar bisa bebagi ilmu..amin
  • Fajar Nur Rachmanto Wah ternyata di wall Pak Awang saya ketemu Pak Ahmad Mansur Suryanegara…salam kenal Pak, saya salah satu pembaca karya anda Api Sejarah 1 dan 2…
  • Uussega Us @. Kang Godam , kalau boleh dan kalau bisa , di kupas sedikit2 disini deh .. ( walau mungkin tamat nya 10 thn ), sy yakin banyak yg ingin tahu dan penasaran ttg ISI buku2 itu ( POINT2 TERTENTU saja ), karena pasti ” BANYAK YG NO’ONG WALL INI .. ( pengen tahu , penasaran , tapi tdk mampu membelinya , karena mahal .. , ke bisi jadi jurig panasaran .. ( heh.heh. Punten ah ..). Matur nuwun kang ..
  • Awang Satyana Kang Uussega Us, nanti kalau saya tulis detail, banyak yang mengeritik, karena kecurigaan, bukannya menyambut buku ini dulu, belum apa2 sudah mengeritik, padahal belum baca bukunya. Coba saja lihat komentar2 yang lalu he2… Jadi punten Kang. Saya hanya ingin tulis saja bahwa membuat buku ini tak mudah, 10 tahun, mengumpulkan dan meminta 100 ilmuwan menulisnya dengan karakternya masing-masing tak mudah, apalagi menulis sejarah yang sangat panjang dari 5 juta tahun yang lalu sejak Indonesia secara geologi mulai mendapatkan bentuknya yang mirip2 sekarang, lalu Homo erectus ada di Jawa sampai 5 tahun yang lalu saat reformasi sudah hampir 10 tahun berjalan. Hargailah setiap karya tulis itu, jangan langsung mengeritiknya. Jangan mengeritik kalau tidak pernah membacanya. Jangan dengan penuh kecurigaan membaca karya tulis itu, bacalah dan analisislah dengan terbuka, baru lontarkan kritik2 dan mari kita berdebat setelah itu. Orang yang membaca dengan penuh kecurigaan tak akan bertambah pengetahuannya.
    11 hours ago · Like · 3
  • Herfien Geologist Saya sependapat dengan guru saya pak Awang Satyana..lanjut terus untuk menulis pak kepsek…hehe
    10 hours ago · Edited · Like · 2
  • Retha Aretha betul pak Awang, bisa dibayangkan sangatlah sulit menulis buku-buku ini, tiap jilidnya saja jumlah halamannya sudah ratusan lembar, sudah pasti orang yg menulisnya sangat berdedikasi tinggi, perlu proses yg sangat panjang, tidak hit & run…begitu juga…See More
    9 hours ago · Like · 1
  • Harry Widianto Terima kasih atas posting buku IDAS ini pak Awang Satyana. Sy termasuk Editor Jilid 1 bersama pak Truman Simanjuntak, dan berkontribusi 4 artikel tentang manusia purba dan manusia prasejarah, dari yg paling purba (Homo erectus) hingga paling progresif,Austronesia Awal. Dengan masa realisasi selama 10 tahun, buku ini memang mengalami revisi berkali-kali pula selama 10 th itu, krn banyaknya muncul data baru, bukan setelah terbit, tp bahkan sejak proses penulisannya. Jadi, para peminat, silahkan temukan data dan interpretasi baru dalam seri buku ini, mulai dari yg tertua hingga termuda. Sekali lagi, terima kasih kepada pak Awang Satyana, yg telah “meresensi” secara singkat aspek-aspek penting buku ini..
  • Awang Satyana Terima kasih Pak Harry Widianto atas “kesaksian” dari pelaku penulis dan editor salah satu jilid buku ini, semoga menjadi perhatian kita bersama bahwa penyusunannya tak mudah, jadi mari kita manfaatkan bersama referensi berharga ini. Iya Pak Harry, saya tengah membaca jilid 1, yang komprehensif ditulis dan disusun oleh Pak Truman, Pak Harry dkk ahli prasejarah Indonesia.