Kejadian Daratan dan Lautan Pertama: Tektonik Lempeng, Tarikan Bulan, atau Isostasi Mantel-Kerak Bumi?

Oleh: Awang Harun Satyana

 
Kejadian 1 : 9 ”Berfirmanlah Allah : ”Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. Kejadian 1: 10. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamaiNya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Bagaimana ilmu geologi menerangkan ini ?

Di sini Alkitab menunjukkan bahwa kerak Bumi berubah membentuk suatu cekungan yang besar, tempat berkumpulnya air, sementara di tempat lain mencembung membentuk daratan. Bagaimana menjelaskan asal muasal proses ini ?

Bila kita memeriksa buku-buku geologi atau oseanografi, pada umumnya jawaban tentang asal cekungan samudra adalah berhubungan dengan pemekaran dasar samudra – sebuah proses tektonik lempeng. Itu benar untuk perkembangan Bumi yang lebih lanjut. Yang dimaksud di sini adalah lautan dan daratan pertama, yang umurnya lebih tua dari 4000 juta tahun (walaupun tak ada kerak samudra yang lebih tua umurnya daripada 200 juta tahun karena proses re-cyling siklus Wilson), apakah tektonik lempeng telah beroperasi lebih tua dari 4000 juta tahun, tepatnya 4500 juta tahun yang lalu ?

Penyebab cekungan lautan dan cembungan daratan pertama mungkin bukan tektonik lempeng, melainkan: (1) sistem planet ganda Bumi-Bulan (di Tata Surya, Bulan adalah satelit paling besar relatif terhadap planet yang diedarinya, maka Bumi-Bulan sering disebut juga sistem dua planet – planet ganda), atau (2) prinsip isostasi mantel-kerak Bumi

Melalui perhitungan dan pengukuran langsung para ilmuwan menemukan bahwa rotasi Bumi makin melambat (melambat beberapa mikrodetik setiap harinya) dan Bulan makin menjauhi Bumi sebanyak 4 cm/tahun. Dulu berarti bahwa rotasi Bumi lebih cepat dan Bulan lebih dekat.

Lebih dari empat milyar tahun yang lalu, Bulan begitu dekat dengan Bumi, bisa dibayangkan berapa besar gravitasi Bumi-Bulan saling tarik-menarik. Titik terdekat diperkirakan di tengah sebuah permukaan Bumi yang kita kenal sekarang sebagai titik tengah Samudera Pasifik. Dapat diduga, bahwa mulai menjauhnya Bulan menimbulkan cekungan ke arah mana air dari segala tempat mengalir dan berkumpul, dan meninggalkan benua besar bernama daratan di sisi Bumi yang lain.
Setelah itu, dengan berjalannya zaman demi zaman geologi, pergeseran benua melalui tektonik lempeng membuka dan menutup laut-laut di seluruh permukaan Bumi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Timbul pertanyaan susulan, darimana asal Bulan sehingga ia begitu dekat dengan Bumi pada awalnya ?

Selama perkembangan astronomi, kita punya beberapa mekanisme kejadian Bulan yang diajukan. Tetapi berdasarkan analisis dan pemelajaran contoh tanah dan batuan Bulan yang dibawa misi Apollo dan wahana Rusia, penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa Bulan terbentuk dari debris Bumi ketika sebuah objek seukuran Mars membentur Bumi sekitar 50 juta tahun setelah Bumi terbentuk. Akresi material di luar angkasa kemudian membentuk Bulan pada 4500 juta tahun yang lalu. Dua ratus juta tahun kemudian (4,3 Ga –milyar tahun yang lalu) kerak Bulan telah membeku dan siap melakukan “tarik tambang gravitasi” dengan Bumi. Bumi dan Bulan saling tarik-menarik. Dalam tarik-menarik itu, dalam tidal oscillation yang dikirim masing-masing benda langit ini sangat mungkin terjadi pencekungan dan pencembungan di kedua
permukaannya.

Timbul lagi sebuah pertanyaan mendasar tentang hubungan Bumi-Bulan yang sulit dicari jawabannya. Mengapa gravitasi dan gaya pasang antara Bumi dan Bulan lebih dari empat milyar tahun lalu saat mereka begitu berdekatan tidak menghancurkan keduanya ? Bagaimana bisa ?

Satu-satunya “bagaimana” yang dapat kita bayangkan adalah bahwa gaya pasang (tidal oscillation) dan gaya gravitasi antara Bumi dan Bulan terhenti dalam selang waktu tertentu beberapa milyar tahun yang lalu, atau ada sesuatu yang berasal dari luar sistem Bumi-Bulan yang ikut berperan. Peristiwa ini, pembentukan sistem yang tidak dapat dijelaskan secara geologi dan astronomi, dan merupakan satu-satunya sistem planet ganda yang diketahui sangat dekat dengan bintang induknya (Matahari), harus dianggap merupakan suatu keajaiban penciptaan.

Penjelasan lain tentang kejadian daratan dan lautan pertama datang dari prinsip isostasi. Dari bukti seismik diketahui bahwa kerak benua (tebal 30-40 km) enam-delapan kali lebih tebal daripada kerak oseanik (5 km). Kerak benua juga punya densitas yang lebih rendah (2,7 g/cc) dibandingkan kerak oseanik (2,9). Akibatnya, karena prinsip isostasi, kerak benua yang lebih tebal dan lebih ringan harus duduk lebih tinggi daripada kerak oseanik yang lebih tipis dan lebih berat.

Bagaimana satu segmen kerak Bumi mesti terangkat sementara segmen yang lain mesti tenggelam untuk mempertahankan kesetimbangan isostasi ? Ada beberapa penjelasan: (1) mantel harus cukup plastis untuk mengalir dari atau ke tempat-tempat berbeda sebagai respon terhadap perubahan-perubahan level kerak Bumi di atasnya, (2) kerak dan mantel atas secara fisik harus berubah menjadi fase yang lebih padat atau kurang padat sehingga berubah hubungan massa-volumenya, atau (3) terjadi kedua proses tersebut. Ketika puncak gunung dierosi, gunung justru akan diangkat lagi makin tinggi oleh isostasi –namun diskontinuitas M/Mohorovicic-nya tenggelam, seperti terjadi ketika daratan terangkat setelah massa es di atasnya lebur. Karena prinsip isostasi pula, aksi ini telah direspon oleh kerak samudra di dekatnya yang tenggelam (tetapi M discontinuity di bawah kerak samudra terangkat –hanya kerak samudra harus semakin padat).

Begitulah keindahan kesetimbangan isostasi bertanggung jawab kepada pembentukan cekungan lautan/samudra dan cembungan daratan/benua pertama.

“Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub, “Di manakah engkau, ketika Aku
meletakkan dasar Bumi ? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! (Ayub 38 : 4).

Kejadian-1     Kejadian-6      Kejadian-5      Kejadian-4      Kejadian-3      Kejadian-2

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s